Find Us On Social Media :
Ilustrasi (SHUTTERSTOCK/DWIMULYANI)

Sejarah Selai, Bermula Dari Budaya Mengawetkan Buah Di Negara Barat

Julisna Ruswan Minggu, 27 September 2020 | 11:05 WIB

SonoraBangka.id - Selai yang kita kenal sekarang adalah campuran buah dan gula dengan konsistensi yang kental. Selai mengingatkan kita dengan menu sarapan karena selai sering menjadi pendamping makan roti, isian kue, sampai olesan martabak. Proses membuat selai dimulai dengan menghancurkan buah yang matang untuk mengeluarkan sarinya. Kemudian dilanjutkan dengan menambahkan gula dan memanaskan hingga mendidih. Selai kemudian ditempatkan ke dalam toples untuk disimpan.

Pada awalnya, melansir dari Serious Eats, selai dikenal sebagai cara untuk mengawetkan buah. Budaya mengawetkan buah ini lazim terjadi di negara barat. Sejarah mengawetkan buah menjadi selai seperti ini berasal dari orang Yunani, yang menggunakan madu untuk mengawetkan buah quince. Pada abad ke-16, gula tebu datang ke Eropa dan digunakan untuk mengawetkan buah. Buah-buahan dan sayuran setelah panen disimpan untuk digunakan sepanjang musim dingin. Mentimun diubah menjadi acar dan tomat serta kacang-kacangan dikalengkan. Buah-buahan dicampur dengan gula untuk membuat selai. Lalu kapan ramuan selai pertama kali muncul?

Sejarah Selai

Melansir Spectator Life, resep pertama selai muncul di buku masak pertama yang berjudul "De Re Coquinaria" yang diterjemahkan berarti Seni Memasak, berasal dari abad ke satu Masehi. Dalam bentuk yang paling sederhana, selai adalah buah lunak yang dipanaskan dengan gula atau madu, didinginkan dan disimpan. Saat Perang Salib, para pejuang membawa kembali ramuan yang lebih kompleks dari Timur Tengah ke negara asalnya. Popularitas selai berkembang bukan hanya sebagai cara untuk mengawetkan buah, melainkan juga sebagai makanan yang lezat. Bahkan Joan of Arc seorang pejuang dari Perancis yang terkenal memakan selai buah quince  sebelum bertempur. Hal itu dipercaya memberikan keberanian lebih.

Pelaut dan bajak laut menimbun selai di kapal mereka. Sebab selai yang kaya akan kandungan Vitamin C dipercaya dapat mencegah penyakit kudis. Sementara itu, Louis XIV sangat mengistimewakan selai sebagai hidangan mewah. Kala itu, selai hanya diproduksi sebagai makanan dapur istana. Kemudian, selai mulai diproduksi dalam skala besar ketika ditemukannya pasteurisasi (proses pemanasan makanan untuk membunuh bakteri di dalamnya) Pada 1785 Napolean Bonaparte menawarkan hadiah kepada siapa saja yang dapat menemukan cara untuk mengawetkan makanan dalam jumlah besar bagi para prajurit.

Pemenang yang beruntung adalah Nicholas Appert, yang menyimpulkan bahwa merebus pada suhu tinggi dan kemudian menyegelnya dalam wadah kedap udara membuat makanan tetap aman. Cara ini yang dikenal dengan nama pasteurisasi. Louis Pasteur memvalidasi temuan empiris ini di abad berikutnya. Produksi selai buah massal juga ikut didukung dengan kejadian selama Perang Dunia II. Saat itu ada kecemasan yang meluas tentang kekurangan makanan. The Women’s Institute datang untuk menyelamatkan. Pada tahun 1940 pemerintah setempat memberi dana hibah untuk The Women's Institute membuat selai. Hasilnya, 1.631 ton selai dibuat oleh relawan.  Ada 5.300 ton buah berhasil diawetkan antara 1940-1945. Produksi massal tersebut juga membuat selai berkembang dan dikenal sampai saat ini.


Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Sejarah Selai Buah, Makanan Para Petualang dan Bajak Laut", Klik untuk baca: https://www.kompas.com/food/read/2020/09/27/102919975/sejarah-selai-buah-makanan-para-petualang-dan-bajak-laut?page=all#page2.