Find Us On Social Media :
ilustrasi whatsapp (HAI Online)

Buntut Kontroversi, Facebook Dikabarkan Tunda Kebijakan Baru WhatsApp

Fitri Eka Sari Minggu, 17 Januari 2021 | 13:01 WIB

SonoraBangkaID

Aturan baru WhatsApp nampaknya menjadi sebuah bumerang bagi Facebook sebagai pengembang aplikasi. Kebijakan yang diklaim untuk meningkatkan kenyamanan dan keamanan akun WhatsApp malah dinilai meganggu privasi penggunanya.

Sebagian pengguna WhatsApp menganggap bahwa aturan baru yang dicanangkan oleh WhatsApp itu akan berisiko untuk data pribadi konsumen. Hal itu pun sempat menghebohkan warganet yang keberatan dengan kebijakan baru tersebut.

Imbasnya, sebagian pengguna WhatsApp pun berbondong-bondong untuk melakukan 'migrasi' ke aplikasi lain seperti Line, Telegram, ataupun Signal.

Menindaklanjuti hal tersebut, Facebook dilaporkan secara resmi akan menunda pembaruan privasi di WhatsApp. Hal tersebut disampaikan oleh pihak WhatsApp melalui postingan blog resmi perusahaan.

Dilansir dari Android AuthorityWhatsApp menyebut bahwa ingin menjeda terlebih dahulu pembaruan di aplikasinya karena kontroversi yang terjadi.

"Menjernihkan informasi yang salah seputar cara kerja privasi dan keamanan di WhatsApp," tulis perusahaan dalam blog.

Lebih lanjut, WhatsApp juga mengatakan bakal menunda pembaruan itu setidaknya selama tiga bulan ke depan. Namun, tidak ada rencana perusahaan untuk melakukan kebijakan selama periode yang sudah ditetapkan.

WhatsApp juga mengatakan bahwa tidak ada fitur yang berfokus pada privasi yang berubah. Perusahaan pun mencoba untuk menjelaskan arah fokus kebijakan baru yang ada di aplikasi WhatsApp ke depannya.

Kondisi ini pun dinilai oleh sejumlah pengamat sebagai indikasi bahwa WhatsApp sedang tertekan. Pasalnya, reaksi dari para pengguna yang merasa dirugikan ini cukup masif dirasakan.

WhatsApp dilaporkan mengalami penurunan jumlah pengguna baru akibat adanya isu aturan baru itu. Selain itu, tertekannya WhatsApp juga dapat dilihat dari hasil yang dicapai oleh pesaingnya yakni Signal dan Telegram.

Pesaingnya, Telegram bahkan telah mengklaim aplikasinya sudah memiliki 500 juta pengguna sejak adanya tentangan terhadap WhatsApp.

Signal pun merasakan hal yang sama, terlebih setelah dipromosikan oleh Elon Musk melalui cuitan di akun @elonmusk.

Aplikasi berbagi pesan tersebut dilaporkan sempat mengalami kendala pada servernya. Bukan karena rusak, namun hal tersebut terjadi akibat banyaknya orang yang secara bersamaan ingin mendaftar ke aplikasi Signal. (*)