Find Us On Social Media :
Dosen Fakultas Ekonomi UBB, Reniati. ((Ist/Dok. Pribadi) )

Naiknya Harga Pupuk Jadi Keluhan Petani Sawit, Berikut Penjelasannya

Ria Kusuma Astuti Kamis, 3 Februari 2022 | 06:53 WIB

SONORABANGKA.ID  - Naik turunnya harga tanda buah segar (TBS) kelapa sawit saat ini yang mulai terjadi pada beberapa bulan terakhir, diiringi pada melonjaknya harga pupuk secara perlahan-lahan.

Padahal, menurut Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Bangka Belitung (UBB), Reniati, pupuk merupakan komponen yang pengaruhnya sangat besar terhadap produktifitas sawit, bahkan hampir 60 persen.

"Jadi tentu saja, dengan adanya kenaikan harga pupuk ini akan sangat berpengaruh terhadap faktor produksi,"ujar Reniati kepada Bangkapos.com, Rabu (2/2/2022).

Dijelaskannya, ada beberapa hal yang diperkirakan menjadi penyebab harga pupuk menjadi mahal atau relatif tinggi hingga 2-3 kali lipat dibanding harga normal.

Berdasarkan analisis yang dilakukan, Reniati menilai, tingginya permintaan pupuk membuat harganya menjadi melambung tinggi.

"Harga sawitnya kan lagi naik, maka tentu saja harga pupuk mengalami kenaikan. Ini adalah hukum perekonomian, semakin tinggi demand (permintaan -red), maka harganya juga semakin tinggi," ucap  wanita yang juga merupakan Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Babel ini.

Selanjutnya, walaupun tidak terlalu terasa, kondisi logistik saat ini juga dinilai belum terlalu normal akibat adanya dampak Pandemi Covid-19, namun tetap berpengaruh terhadap kelancaran distribusi pupuk.

Tak hanya itu, adanya lonjakan harga energi ataupun bahan baku pembuatan pupuk juga mengalami peningkatan drastis secara international.

Oleh sebab itu, peran pemerintah sangat diperlukan dalam meningkatkan kerja sama dengan stakeholder terkait seperti para produsen, penyedia dan penyuplai pupuk dalam rangka pengendalian dan pengawasan harga.

Selain itu, perlu juga dilakukan research and development (RnD) terhadap potensi penggunaan pupuk lokal atau pupuk organik sebagai solusi jangka panjang.

"Jadi salah satu solusinya adalah pembuatan pupuk kompos melalui kerja sama dengan perguruan tinggi, supaya pupuk yang dihasilkan benar-benar berkualitas,"tambahnya.

Di samping itu, Reniati berpesan kepada para petani sawit rakyat agar tidak terlalu resah pada tingginya harga pupuk ini. Pasalnya, sawit masih menjadi komoditi yang sangat menjanjikan dan diperkirakan akan semakin bagus.

"Untuk hilirisasi sawit ini masih sangat bagus, karena memiliki banyak manfaat seperti CPO, minyak goreng, bahan kosmetik dan bahan obat-obatan dan lain sebagainya," ucap dia seraya menyebut, kini pemerintah pusat sedang membuat prospek sawit menjadi lebih tinggi dan luas karena direncanakan akan dimanfaatkan sebagai bahan bakar atau bahan pembuatan energi.

Artikel ini telah tayang di BangkaPos.com dengan judul Tingginya Harga Pupuk Jadi Keluhan Petani Sawit, Begini Analisanya, https://bangka.tribunnews.com/2022/02/02/tingginya-harga-pupuk-jadi-keluhan-petani-sawit-begini-analisanya.