Find Us On Social Media :
()

Untuk Hindari stigmatisasi, WHO Akan Ganti Nama Penyakit Cacar Monyet

Iqbal Kurniawan Senin, 15 Agustus 2022 | 09:24 WIB

SONORABANGKA.ID - (WHO) World Health Organization Organisasi Kesehatan Dunia  tengah mengadakan forum terbuka untuk mengganti nama monkeypox atau cacar monyet.

Keputusan ini diambil menyusul adanya sejumlah kritik, yang mengungkapkan kekhawatiran bahwa nama tersebut dapat dianggap diskriminatif dan memicu stigmatisasi.

"Sekelompok pakar global yang diselenggarakan oleh WHO telah menyepakati nama baru untuk varian virus monkeypox, sebagai bagian dari upaya berkelanjutan untuk menyelaraskan nama penyakit, virus, dan varian monkeypox atau clade," tulis WHO dalam laman resminya, Jumat (12/8/2022).

Melihat wabah cacar monyet saat ini, para ahli sepakat untuk memberi nama clade atau varian menggunakan angka Romawi.

Virus cacar monyet sendiri dinamai berdasarkan penemuan pertama di tahun 1958, demikian pula untuk nama penyakit yang disebabkannya.

WHO mengatakan, nama baru untuk clade segera berlaku, sedangkan nama baru untuk penyakit ataupun virus cacar monyet akan dilakukan.

Mereka menyebutkan, penamaan spesies virus menjadi tanggung jawab International Committee on the Taxonomy of Viruses (ICTV), yang juga sedang memproses nama virus monkeypox.

Siapa pun yang ingin mengajukan saran nama, kata mereka, dapat melakukannya di situs web WHO.

Pihaknya juga menekankan, virus yang baru diidentifikasi, penyakit terkait, dan varian virus harus diberi nama yang tidak menyebabkan pelanggaran terhadap kelompok budaya, sosial, nasional, regional, profesional, atau etnis apa pun.

Selain itu, tidak menimbulkan dampak negatif pada perdagangan, perjalanan, pariwisata, ataupun kesejahteraan hewan.

"Penamaan varian untuk patogen yang ada biasanya merupakan hasil perdebatan di antara para ilmuwan," kata WHO.

"Untuk mempercepat kesepakatan dalam konteks wabah saat ini, WHO mengadakan pertemuan pada 8 Agustus untuk memungkinkan ahli virologi dan pakar kesehatan masyarakat mencapai konsensus tentang terminologi baru," lanjutnya.

Pergantian nama clade cacar monyet Para ahli virologi cacar, biologi evolusioner, dan perwakilan lembaga penelitian dari seluruh dunia meninjau filogeni dan nomenklatur varian atau clade virus cacar monyet baik yang diketahui ataupun baru.

Mereka membahas karakteristik serta evolusi varian virus cacar monyet, perbedaan filogenetik dan klinis yang jelas, konsekuensi potensial bagi kesehatan masyarakat, penelitian virologi hingga evolusi di masa depan.

Kelompok tersebut mencapai konsensus tentang nomenklatur baru untuk clade virus.

Mereka sepakat tentang bagaimana clade virus harus dicatat dan diklasifikasikan di situs repositori urutan genom.

Pergantian nama untuk sekarang merujuk pada clade Congo Basin (Afrika Tengah) menjadi Clade I, sedangkan clade Afrika Barat menjadi Clade II.

Kemudian, disepakati pula Clade II terdiri dari dua subclade.

Struktur penamaan yang tepat akan diwakili oleh angka Romawi untuk clade dan karakter alfanumerik huruf kecil untuk subclade.

Dengan demikian, konvensi penamaan baru terdiri dari Clade I, Clade IIa, dan Clade IIb, mengacu pada kelompok varian yang sebagian besar beredar dalam wabah global 2022.

"Nama-nama baru untuk clade harus segera berlaku sementara pekerjaan berlanjut pada nama penyakit dan virus," ujar WHO.

Dilansir dari Fox News, Sabtu (13/8/2022), Pusat Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (CDC) mencatat bahwa sumber virus cacar monyet masih belum diketahui.

Sebelum tahun 2022, kasus cacar monyet hampir selalu dikaitkan dengan perjalanan internasional ke negara-negara di mana penyakit ini endemik, atau melalui hewan impor.

Adapun kasus cacar monyet pada manusia pertama terjadi pada 1970.

Beberapa waktu lalu, setidaknya ada 10 monyet di Brasil yang diracuni lantaran dianggap menularkan virus ke manusia.

Akan tetapi, Juru Bicara WHO Margaret Harris menekankan bahwa penularan yang saat ini teramati terjadi antara manusia ke manusia.

Harris menambahkan, monyet tidak dapat dianggap bertanggung jawab atas mewabahnya penyakit tersebut.

Penularan dapat terjadi dari hewan ke manusia, tetapi untuk wabah yang terjadi baru-baru ini hanya terkait dengan kontak manusia.

Harris pun melarang siapa pun untuk menyerang hewan apa pun.

"Ini adalah penularan kontak dekat.

Jadi yang perlu diperhatikan adalah di mana penularannya pada populasi manusia, dan apa yang dapat dilakukan manusia untuk melindungi diri mereka dari penularan," jelasnya.