Find Us On Social Media :
Ilustrasi SPBU (KOMPAS.com)

Dampak Rambatan Kenaikan Harga BBM Subsidi, Inflasi Tinggi hingga Sebabkan Stagflasi

Marselus Wibowo Sabtu, 20 Agustus 2022 | 17:34 WIB

SonoraBangka.ID - Rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi tengah menjadi sorotan. Pasalnya, rencana tersebut dinilai akan berdampak signifikan terhadap indeks harga konsumen (IHK), yang pada akhirnya akan mengganggu roda perekonomian nasional.

Dengan naiknya harga BBM subsidi, laju inflasi Tanah Air diyakini akan melonjak tinggi. Padahal, data terakhir menunjukan tingkat inflasi sudah mencapai 4,94 persen secara tahunan (year on year/yoy).

"Jika ada kenaikan BBM akan membuat inflasi akan semakin tinggi, bisa mencapai lebih dari 7 persen jika Pertalite dinaikkan," ujar Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Nailul Huda, Sabtu (20/8/2022).

Lebih lanjut ia bilang, kenaikkan harga itu juga berpotensi menggerus daya beli rumah tangga, sebab BBM merupakan salah satu komoditas primer masyarakat. Ini pada akhirnya akan mengganggu perekonomian nasional.

"Konsumsi rumah tangga bisa terkontraksi, berbahaya bagi pertumbuhan ekonomi kita yang tengah membaik," katanya.

Berpotensi picu stagflasi

Sementara itu, Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira memastikan kenaikan harga Pertalite akan mendongkrak tingkat inflasi Tanah Air. Ini akan semakin memperparah kondisi masyarakat bawah, yang sudah dihadapi oleh lonjakan harga pangan selama beberapa bulan terakhir.

"Apa kondisi masyarakat miskin saat ini siap hadap kenaikkan harga BBM, setelah inflasi bahan pangan hampir sentuh 11 persen secara tahunan per Juli 2022," ujar dia.

Bukan hanya kalangan bawah saja, Bhima menyebutkan, kenaikan harga Pertalite juga akan berdampak kepada masyarakat kalangan menengah. Menurutnya, alokasi anggaran belanja masyarakat untuk membeli BBM RON 90 itu menjadi tidak terhindarkan.

"Kalau harga Pertalite juga ikut naik maka kelas menengah akan korbankan belanja lain. Imbasnya apa? Permintaan industri manufaktur bisa terpukul, serapan tenaga kerja bisa terganggu," tutur Bhima.

Dengan asumsi tersebut, ia menilai, ancaman stagflasi di Indonesia menjadi nyata. Stagflasi berpotensi terjadi dengan inlasi yang melesat, disertai pelemahan faktor pertumbuhan ekonomi nasional.

"Imbas nya bisa 3-5 tahun recovery terganggu akibat daya beli turun tajam," ucap Bhima.

Asal tahu saja, pada kuartal II-2022, konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional, dengan porsi mencapai 51,47 persen. Konsumsi rumah tangga tercatat masih mengalami pertumbuhan pada peride April-Juni 2022.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Dampak Rambatan Kenaikan Harga BBM Subsidi, Inflasi Tinggi hingga Sebabkan Stagflasi", Klik untuk baca: https://money.kompas.com/read/2022/08/20/142946526/dampak-rambatan-kenaikan-harga-bbm-subsidi-inflasi-tinggi-hingga-sebabkan.