Find Us On Social Media :
Ilustrasi (Shutterstock )

Seperti Apakah Ghosting, Fenomena Putus Hubungan Anak Zaman Now ?

Riska Tri Handayani Selasa, 9 Maret 2021 | 13:33 WIB

SonoraBangka.id - Information seeking atau pencarian informasi di tengah situasi ambigu ini yang kadang membawa korban merasa bersalah karena tidak menemukan jawaban.

Seperti drama sinetron, publik seakan dibawa dalam pusaran hubungan sepasang anak muda ini.

Kubu netizen yang mahabenar dengan segala kenyinyirannya, juga terbelah dua untuk menambah besar hiruk-pikuk ini.

Beragam tudingan pun muncul tentang penyebab putus cinta ini, entah benar, entah keliru.

Ghosting dan komunikasi di era digital

Saya tidak hendak membahas peristiwa itu, tetapi membahas adanya istilah unik yang tampaknya berseliweran di lini massa.

Itu adalah kata ghosting. Fenomena ghosting ini merupakan istilah etimologis linguistik yang mulai dipublikasikan oleh Urban Dictionary sejak tahun 2006.

Penelitian terkait hal ini pun masih terbilang sedikit. Penelitian yang mungkin bisa menjadi rujukan untuk mengolah ulah aneh-aneh anak zaman now ini adalah oleh Leah E Levebre bersama kawan-kawannya pada 2019.

Mereka merupakan kumpulan dosen ilmu komunikasi di Universitas Alabama, Tuscaloosa, Amerika Serikat.

Ghosting sendiri masuk dalam kategori teknik penghindaran atau yang disebut sebagai avoidance.

Kategori teknik penghindaran dalam ghosting ini sendiri sebenarnya sudah lama dikenal dalam dunia persilatan ilmu komunikasi.

Teknik avoidance, adalah cara untuk untuk memutuskan hubungan, interaksi dan komunikasi dengan menghindari orang yang dituju.

Teknik penghindaran ini juga sering dipakai dalam apologetik retorik untuk melarikan diri dari tanggung jawab untuk meminta maaf.

Misalnya, pejabat yang mengelak untuk mengakui korupsi yang dituduhkan padanya.

Pejabat yang korupsi juga akan cenderung menghindar, memutus wawancara kepada wartawan, dan cepat pergi dari lokasi.

Yang membedakan adalah istilah ghosting ini dipakai pada penggunaan media komunikasi dan teknologi untuk memediasi hubungan interpersonal yang terjadi.

Media ICT inilah yang memberi nuansa dan sentuhan baru pada ghosting dibanding "kakak sepupunya", yakni avoidance tadi.

Hingga, ghosting dianugerahi sebutan sebagai teknik kontemporer memutus hubungan di era digital.

Ghosting juga sering terjadi pada periode masa transisi dewasa yakni usia 18-29 tahun.

Usia ini memiliki penggunaan teknologi yang tinggi baik komputer maupun ponsel.

Maka, media ini pula yang digunakan untuk memulai maupun melakukan terminasi hubungan pada zaman now.

Ciri-ciri perilaku ghosting adalah memutuskan hubungan dengan seseorang dalam sebuah relasi melalui cara menghilang tanpa kabar, tanpa pemberitahuan, dan bahkan tanpa memberi pilihan.