Find Us On Social Media :
Ilustrasi Whatsapp (Shutterstock/Antonio Salaverry )

Digratiskan, WhatsApp Dapat Uang dari Mana?

Marselus Wibowo Selasa, 15 Februari 2022 | 07:04 WIB

SonoraBangka.ID - WhatsApp telah berkembang pesat jadi aplikasi pesan instan yang jamak digunakan pengguna saat ini, dengan terdapat lebih dari dua miliar pengguna aktif per bulan.

Jumlah pengguna tersebut mampu menghantarkan WhatsApp menjadi aplikasi pesan instan terpopuler mengalahkan dua aplikasi pesan instan lain, yakni Facebook Mesangger yang hanya terdapat 1,3 miliar pengguna dan WeChat dengan 1,2 miliar pengguna.

Dengan jumlah tersebut, analis pasar di Forbes memperkirakan WhatsApp mampu mencetak total pendapatan hingga lebih dari 5 miliar dolar AS (sekitar Rp71 triliun), dengan rata-rata pendapatan yang didapat dari tiap pengguna sebesar 4 dolar AS (sekitar Rp57.000).

Angka tersebut hanya estimasi dari pihak lain, bukan secara resmi dikeluarkan oleh WhatsApp. Perkiraan pendapatan WhatsApp itu dihitung dengan menyamakan presentase kenaikan pendapatan dari aplikasi pesan instan lain, seperti Line dan WeChat.

Sejak diakuisisi oleh perusahaan Facebook (kini Meta) per tahun 2014 dengan nilai Rp223 triliun, pendapatan WhatsApp lebih sulit untuk diketahui. Dulu WhatsApp pernah menerapkan kebijakan biaya berlangganan pada pengguna sebesar 1 dolar AS per tahun (sekitar Rp14.000).

Biaya berlangganan tersebut menjadi sumber pendapatan WhatsApp kala itu. Dengan diterapkannya kebijakan biaya berlangganan tersebut, pendapatan WhatsApp jadi lebih mudah untuk dibaca. Misalnya, WhatsApp punya pengguna 10 orang maka pendapatan yang diperoleh adalah 10 dolar AS.

Namun pada tahun 2016, Meta sebagai induk perusahaan WhatsApp menghentikan kebijakan biaya berlangganan itu. WhatsApp akhirnya dibuat menjadi aplikasi pesan instan yang sepenuhnnya gratis.

WhatsApp yang dikembangkan sejak 2009 oleh Brian Acton and Jan Koum, memang didesain sebagai platform perpesanan yang lebih murah untuk menyaingi SMS.

WhatsApp tidak punya "barang dagangan" yang bisa dibeli pengguna di aplikasi, misal token, koin, dan sebagainya. Bahkan, WhatsApp juga tidak memasukkan iklan untuk memonetisasi platform, seperti yang dilakukan Line dan WeChat.

Sebagaimana dihimpun KompasTekno pada tahun 2016, Jan Koum pendiri sekaligus CEO WhatsApp kala itu berjanji tidak akan menyelipkan iklan di platform-nya.