Ilustrasi
Ilustrasi ( SHUTTERSTOCK )

Masker "Fit" Lebih Penting untuk Tangkal Covid-19, di Banding Bahan !

7 Maret 2021 10:06 WIB

SonoraBangka.id - Baru-baru ini, ditemukan sebuah kesimpulan menarik dari tim peneliti yang mempelajari keefektifan berbagai jenis masker untuk menghambat infeksi Covid-19.

Selama ini pembahasan berkutat tentang material pembuat masker, atau pun berapa lapisan masker yang aman.

Tetapi ternyata, penelitian ini membuktikan bahwa bentuk masker dan kecocokannya pada wajah, jauh lebih penting ketimbang material, dalam hal penularan virus tersebut.

Para peneliti, dari University of Cambridge, Inggris melakukan serangkaian uji kesesuaian yang berbeda dalam konteks ini.

Mereka menemukan, ketika masker berkinerja tinggi - seperti masker N95, KN95 atau FFP2 - tidak terpasang secara fit, kinerjanya tidak lebih baik dari pada masker kain biasa.

Perbedaan kecil pada fitur wajah, seperti jumlah lemak di bawah kulit, membuat perbedaan signifikan pada seberapa cocok masker melindungi mulut dan hidung.

Hasil penelitian yang diterbitkan dalam jurnal PLoS ONE juga menunjukkan, pemeriksaan kesesuaian masker yang rutin di banyak tempat perawatan kesehatan pun memiliki tingkat kegagalan yang tinggi.

Sebab, "kebocoran kecil' menjadi hal yang mungkin sulit atau bahkan tidak mungkin dideteksi oleh pemakainya.

Meski ukuran sampelnya kecil, para peneliti berharap temuan ini akan membantu mengembangkan tes untuk menemukan solusi baru yang cepat dan andal.

Studi saat ini hanya mengevaluasi dampak kecocokan pada pemakai masker tersebut.

Tim ilmuwan mengevaluasi bagaimana masker yang fit berdampak pada perlindungan untuk orang lain dalam penelitian di masa mendatang.

Pandemi Covid-19 memang telah menjadikan masker yang fit di muka sebagai bagian penting dari peralatan pelindung.

Tak hanya bagi petugas kesehatan, tapi pun masyarakat umum.

Namun sayangnya, di tengah pengertian tentang pentingnya mengenakan masker untuk menangkal virus, masih ada kekurangan pemahaman tentang kecocokan masker di wajah bisa memastikan keefektifannya.

“Kami sadar, kecuali jika ada segel antara masker dan wajah pemakainya, ada banyak aerosol dan tetesan bocor melalui bagian atas dan samping masker."

"Orang yang biasa memakai kacamata akan mudah menyadari ini (berembun)," sebut Eugenia O ' Kelly dari Cambridge's Department of Engineering, penulis pertama makalah tersebut.

"Kami ingin mengevaluasi secara kuantitatif tingkat kesesuaian yang ditawarkan oleh berbagai jenis masker."

"Dan, yang terpenting, menilai keakuratan penerapan pemeriksaan kecocokan masker dengan membandingkan hasil pemeriksaan kesesuaian tersebut dengan hasil pengujian kesesuaian kuantitatif."

Dalam penelitian ini, tujuh peserta pertama-tama mengevaluasi masker N95 dan KN95 dengan melakukan pemeriksaan kesesuaian.

Pemeriksaan tersebut menggunakan pedoman yang diterbitkan National Health Service (NHS) Inggris.

Peserta kemudian menjalani uji kesesuaian kuantitatif - yang menggunakan penghitung partikel untuk mengukur konsentrasi partikel di dalam dan di luar masker.

Penelitian dilakukan baik saat mengenakan masker N95 dan KN95, maupun masker bedah, dan masker kain.

Hasilnya terlihat kecocokan bagi pemakai masker adalah yang penting dalam pengaturan klinis dari pemakaiannya.

Masker N95 - yang merupakan standar serupa dengan masker FFP3 menawarkan tingkat perlindungan yang lebih tinggi daripada kategori masker lain yang diuji.

Namun, sebagian besar masker N95 gagal untuk menyesuaikan dengan bentuk wajah peserta secara memadai.

Para peneliti menemukan, ketika dipasang dengan benar, masker N95 menyaring lebih dari 95 persen partikel di udara, sehingga menawarkan perlindungan yang unggul.

Namun, dalam beberapa kasus, masker N95 yang tidak dipasang dengan benar hanya dapat dibandingkan dengan masker bedah atau kain.

“Tidaklah cukup untuk mengasumsikan bahwa satu model N95 akan sesuai dengan mayoritas populasi,” kata O'Kelly.

"Masker yang paling pas yang kami lihat, 8511 N95, hanya cocok untuk tiga dari tujuh peserta dalam penelitian kami."

Satu pengamatan yang dilakukan para peneliti selama riset ini adalah lebar flensa masker -area bahan yang bersentuhan dengan kulit- menjadi fitur penting untuk menyesuaikannya.

Sebab, masker dengan jumlah kecocokan terbanyak cenderung memiliki flensa yang lebih lebar dan lebih fleksibel di sekitar bagian tepinya.

Selain itu, perbedaan kecil wajah diamati memiliki dampak signifikan pada kesesuaian kuantitatif.

“Menyesuaikan wajah dengan sempurna adalah tantangan teknis yang sulit dan, seperti yang ditunjukkan oleh penelitian kami."

"Perbedaan kecil seperti hidung yang lebih lebar satu sentimeter atau pipi yang sedikit lebih berisi dapat membuat atau merusak kesesuaian masker," kata O'Kelly.

Pemeriksaan kesesuaian yang dilakukan sendiri menjadi pilihan yang paling ideal saat ini.

Sebab, langkah tersebut dapat menghemat waktu dan sumber daya, dan sepertinya memang merupakan satu-satunya metode pengujian kesesuaian yang tersedia.

Namun, bisa jadi pula sistem pemeriksaan kesesuaian mandiri semacam itu tidak dapat diandalkan.

Para peneliti berharap hasil penelitian ini akan berguna bagi mereka yang sedang mengerjakan teknologi dan program baru untuk menilai kecocokan masker.

Harapannya, perawatan kesehatan dan pekerja garis depan lainnya terlindungi secara memadai jika terjadi pandemi di masa depan.

Tak hanya itu, mereka berharap hasil ini akan memberi perhatian pada pentingnya kesesuaian dalam masker kelas klinis.

Utamanya, jika masker semacam itu akan digunakan secara luas oleh masyarakat.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Bukan Bahan, Masker yang "Fit" Lebih Penting untuk Tangkal Covid-19", Klik untuk baca: https://lifestyle.kompas.com/read/2021/03/01/131702520/bukan-bahan-masker-yang-fit-lebih-penting-untuk-tangkal-covid-19?page=all.


SumberKOMPAS.com
KOMENTAR
101.1 fm
103.5 fm
105.9 fm
94.4 fm