Ilustrasi seorang anak ikut memasak bersama ibunya di dapur.
Ilustrasi seorang anak ikut memasak bersama ibunya di dapur. ( Dok. ThinkStock)

Penjelasan Ahli Gizi : Pentingkah Makanan Penutup Mulut untuk Anak?

25 Juli 2023 10:35 WIB

SonoraBangka.id - Boleh saja mengadaptasi budaya makan orang luar negeri yang mengakhiri acara santap makan dengan pelengkap dessert alias makanan penutup.

Termasuk juga menerapkan ini kepada si kecil. Sahabat NOVA Boleh kiranya melengkapi acara makan si kecil dengan makanan penutup atau bisa disebut juga makanan pencuci mulut.

Toh, menu makanan penutup tak perlu sama persis sama dengan orang luar negeri. Tetap kedepankan kearifan lokal dan menyesuaikan masakan daerah yang menjadi kebiasaan makan di rumah dan lingkungan si kecil.

Bagaimanapun, si kecil punya lidah lokal yang kesukaannya tidak beda jauh sama ibunya, bukan?

”Bunda bisa membedakan jenis makanan penutup ini antara si kecil dengan ayahnya. Misalnya sang ayah kebagian es kopyor kelapa muda dan si kecil mendapat jatah es krim atau es serut.

Lumrahnya, menyantap makanan manis dan segar sehabis hidangan utama yang ‘berat’ bakal terasa lebih nikmat,” jelas Nuril Farah Dhiya, S.TR.GZ, ahli gizi yang bertugas di Puskesmas Jakarta.

Lebih lanjut, Nuril menyarankan agar ibu memberi jeda waktu santap makanan pencuci mulut sekitar 30 menit sampai satu jam sesudah makan.

Tujuannya agar memberi ruang pada lambung sekaligus mencegah anak langsung tertidur usai makan.

Pertanyaannya, apakah menyediakan makanan penutup menjadi keharusan? Sebenarnya tidak sih.

Agar mudah mempertimbangkan hal tersebut, yuk ada baiknya kita ketahui manfaat makanan penutup (dessert) terlebih dulu.

1. Cuci mulut 

Sesuai judulnya, makanan penutup adalah momen terakhir dari ritual makan. Setelah makan berat, fungsi dari makanan penutup adalah mencuci indera pengecap untuk menghilangkan sisa amis, gurih, atau asin yang didapat dari makanan utama sebelumnya.

2. Pelengkap Kebutuhan Gizi

Makanan penutup juga dapat berperan sebagai pelengkap gizi. ”Seringkali anak tidak terpenuhi zat gizinya dari makanannya sehari-hari. Oleh karena itu diperlukan juga dessert dalam jumlah kecil di luar jam makan camilan,” terang Nuril.

Dalam satu hari, sambung Nuril, pada anak usia 5-12 tahun, memiliki kebutuhan Kalori sebanyak 1400-1700 kkal , protein 50-60 gr, serta lemak 50-60 gr. (AKG th 2019). Untuk kondisi anak yang memiliki status gizi normal, bisa dipilihkan menu makanan penutup atau produk yang nilai gizi nya masih kadar normal.

Sedangkan anak yang butuh boost berat badan atau yang memiliki aktivitas berlebih, bisa kita berikan dessert yang padat gizi.

”Untuk menu yang relevan pada usia anak 5-10 tahun, dapat kita berikan pisang goreng atau bakar, buah potong, es buah, jus buah, pudding, salad buah, atau es serut rasa buah,” usul Nuril.  

3. Stimulus agar si kecil habiskan makanan

Pilihan menu makanan penutup dapat menjadi stimulus agar anak menghabiskan porsi makan. Artinya, fungsi makanan penutup di sini semacam ‘hadiah’ atau reward kepada si kecil atas prestasinya telah menghabiskan makan.

Tiga poin tadi dapat menjadi pertimbangan menyajikan menu makanan penutup. Sebagai opsi, Bunda juga bisa menyediakan Pino Es Serut Buah yang tersedia dalam rasa aneka buah dan memiliki kandungan 40 kkal.

Artikel ini telah terbit di https://nova.grid.id/read/053312340/beri-makanan-penutup-mulut-untuk-anak-apakah-penting-ini-kata-ahli-gizi?page=all

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
101.1 fm
103.5 fm
105.9 fm
94.4 fm