Seoorang yang diduga mempelai wanita melemparkan celana dalam untuk meredakan hujan saat hajatan
Seoorang yang diduga mempelai wanita melemparkan celana dalam untuk meredakan hujan saat hajatan ( tangkapan layar)

Viral, Video Pengantin Lempar CD ke Atap untuk Redakan Hujan Saat Hajatan, Ini Kata BMKG dan Sosiolog

23 Februari 2025 06:55 WIB

SonoraBangka.id - Sebuah video viral di media sosial, menunjukkan aksi warga melakukan ritual menghentikan hujan atau menolak hujan dengan melempar celana dalam pengantin ke atap.

Video yang dibagikan oleh pengelola akun instagram @_thinksmart*** pada Rabu (19/2/2025) tersebut memperlihatkan sebuah keluarga yang sedang menyelenggarakan hajatan pernikahan.

Di tengah hujan yang mengguyur deras, pengantin perempuan diarahkan untuk melepas celana dan melemparkannya ke genteng.  Dalam video dinarasikan bahwa tak sampai 5 menit setelah celana dalam dilempar ke atap, hujan mereda.

"Akhirnya, ternyata terang benderang wes, ndak hujan," terang perekam video tersebut. Dalam video tersebut juga dibubuhkan caption yang menerangkan bahwa ritual tersebut dipercaya oleh sebagian orang yang mengadakan hajatan seperti pernikahan hingga khitanan untuk menolak hujan.

Sosiolog sebut sebagai tradisi Saat dimintai tanggapan, dosen Sosiologi Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Drajat Tri Kartono, beranggapan ritual tersebut merupakan bagian dari tradisi yang berkembang di masyarakat.

Fenomena itu, menurutnya, sebagai sebuah tradisi atau tindakan yang berdasarkan pengalaman masa lampau dalam bentuk relasi atau komunikasi dengan alam dan para penguasa alam.

"Ada berbagai cara yang secara tradisi itu memang diturunkan, diberikan kepada anak-anaknya dari orang-orang yang hebat. Misalnya yang terkait dengan mengubah hujan atau juga menyangkut terkait ekonomi (pesugihan)," terang Drajat kepada Kompas.com, Jumat (21/2/2025).

Menurutnya, dalam konteks fenomena pawang hujan, celana dalam di sini berperan sebagai sejenis mantra atau atribut untuk menangkal hujan. Dalam kasus lain, ada juga masyarakat yang menggunakan cabai, bawang merah, hingga sapu lidi yang dibalik.

"Nah itu mereka percaya bahwa ini adalah peralatan-peralatan yang bisa dipakai semacam antena untuk menghubungkan dengan kekuatan-kekuatan lain pengendali alam. Kalau secara modern kan sekarang dengan cara tabur garam menggunakan pesawat atau modifikasi cuaca," imbuh Drajat.

Menurut dia, dalam melakukan tradisi itu, masyarakat bisa saja mendapatkan apa yang diharapkan maupun tidak. Orang-orang yang masih melakukan tradisi lempar celana dalam ke atap kemungkinan di masa lalu secara kebetulan selalu menyaksikan keberhasilan, yakni hujan berhenti.

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
101.1 fm
103.5 fm