Ilustrasi
Ilustrasi ( SHUTTERSTOCK/GRATSIAS ADHI HERMAWAN )

Sopir Angkot dan Ojol Minta Penyesuaian Tarif Saat Harga BBM Naik, Organda Tunggu Kebijakan Pemerintah

4 September 2022 19:16 WIB

Seharusnya dengan kenaikan BBM tarif Ojol perlu dikaji. Mereka menuntut adanya kenaikan tarif yang diatur pemerintah untuk kompensasi kenaikan harga BBM.

Apalagi, sebelumnya tarif ojek online sempat ditunda kenaikannya oleh pemerintah.

“Kalau menurut kami tidak seimbang kalau ongkos tidak naikkan, kalau tarif dinaikkan seimbang,” ujar Taufik.

Taufik juga meminta agar pemerintah mau menurunkan potongan aplikasi menjadi hanya sekitar 10 persen saja tanpa ada lagi fee atau biaya aplikasi pada setiap ordernya.

Dia menilai, pemerintah perlu melakukan pertemuan dan dialog dengan seluruh perwakilan organisasi driver angkutan online untuk mendapatkan subsidi dari pemerintah.

“Harapannya kalau memang naik, tarif dinaikkan juga. Supaya seimbanglah. Kita hanya dapat Rp8.800 sekali dapat order,” kata dia.

Walaupun begitu, untuk mengakali kenaikan BBM ini pihaknya harus putar otak dengan mencari pekerjaan lainnya. Sebab, jika hanya mengandalkan pendapatan dari ojol dengan kenaikan BBM tidak seberapa.

Pasalnya, dalam sehari ia mampu menghabiskan sekitar lima liter bahan bakar untuk mengantarkan penumpang atau order makanan yang diterima.

Terlebih jika membeli BBM eceran yang harganya sekarang mencapai Rp12.000 per liter.

“Enggak pasti kita tergantung aplikasi pendapatannya. Kita tidak bisa pakai target, pagi sampai malam kadang juga belum tentu dapat lebih,” keluh Taufik. 

Ilustrasi
Setopan mobil angkot di Kawasan Ramayana Pangkalpinang. (Bangkapos.com/Akhmad Rifqi Ramadhani)

Organda Tunggu Kebijakan Pemerintah

Sementara itu, Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) Pangkalpinang Syaifuddin mengungkapkan jika secara menyeluruh para sopir angkot memang belum berani memastikan tarif baru kendati harga BBM telah naik.

Kata dia, selama belum adanya surat edaran dari pemerintah maka pihaknya masih mengacu pada tarif yang lama.

Oleh karena itu pula, pihaknya tidak pernah meminta penumpang untuk bayar lebih.

"Kalau kita masih Rp5.000 tarifnya, tapi terkadang ada juga yang bayar lebih sekitar Rp7.000 itu kita terima juga , artinya ini konsumen yang memberi bukan kita yang meminta," katanya.

Pihaknya memastikan akan menunggu kebijakan dari pemerintah kota terkait penetapan tarif baru.

Di sisi lain, Budin sapaan akrabnya berharap pemerintah dapat segera merumuskan kebijakan baru sebagai tindak lanjut kenaikan harga BBM melalui koordinasi dengan perwakilan sopir angkot agar tidak adanya penetapan harga yang berbeda-beda.

"Nanti kalau tidak aturan, bisa jadi antar sopir satu dengan yang lain harganya berbeda-beda ,nah ini nanti bisa menimbulkan polemik, maka dari itu supaya kita punya landasan hukum yang kuat, pemerintah harus segera turun tangan," ucapnya.

Yang pasti kata dia, pihaknya berharap pemerintah menaikkan tarif angkot tersebut karena harus menyesuaikan juga dengan biaya operasional.

"Semoga naik lah paling tidak Rp2000 saja, agar tidak rugi juga," harap Budin.

Artikel ini telah tayang di BangkaPos.com dengan judul Harga BBM Naik, Sopir Angkot dan Ojol Minta Penyesuaian Tarif, Organda Tunggu Kebijakan Pemerintah, https://bangka.tribunnews.com/2022/09/04/harga-bbm-naik-sopir-angkot-dan-ojol-minta-penyesuaian-tarif-organda-tunggu-kebijakan-pemerintah?page=all.
Penulis: Nurhayati CC | Editor: nurhayati

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
101.1 fm
103.5 fm
105.9 fm
94.4 fm