Ilustrasi ayah dan anak
Ilustrasi ayah dan anak ( shutterstock)

Ketahui Toxic Masculinity dan Pembagian Kerja Berdasarkan Gender di Keluarga

27 November 2022 09:08 WIB

SonoraBangka.id - Selain memanjakan umat manusia dengan kemudahan dan kecepatan, zaman teknologi digital juga menghasilkan budaya popular baru yang beragam.

Uniknya, untuk tiap budaya popular ada sebutan berikut gejala khasnya. Itu tak nampak nyata di zaman sebelumnya, zaman belum dominannya teknologi digital.

Salah satu yang berangkat dari gejala yang tak terlalu jelas, namun terus diterima secara luas adalah toxic masculinity.

Gejala ini kemudian berkembang jadi budaya massa, yaitu budaya yang hadir akibat diinisasi oleh media massa, menjangkiti khalayaknya, hingga diterima secara massal.

Demam K-wave misalnya, hiburan yang kemudian berpengaruh pada pemujaan terhadap segala hal yang berkait dengan Korea, merupakan perwujudan budaya massa itu.

Disebut demikian, lantaran penyebaran luas dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, digenggam jadi acuan perilaku maupun cara berpikir banyak kalangan.

Jika pada masa sebelumnya, agen budaya massa adalah media konvensional, hari ini media sosial lah yang bertindak sebagai agen.

Mengenal dan Memahami Toxic Masculinity

Akan halnya toxic masculinity, sebagai suatu bentuk budaya massa diawali oleh hadirnya gagasan yang melekatkan keharusan laki-laki untuk senantiasa tangguh.

Gender ini dituntut selalu punya pengaruh yang dominan sekaligus mampu tampil tanpa sikap emosional.

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
101.1 fm
103.5 fm
105.9 fm
94.4 fm