Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo. ( YouTube Bank Indonesia)

Bos BI Sebut 5 Faktor Ini Berpotensi Sebabkan Gejolak Ekonomi Global

23 November 2022 10:12 WIB

SonoraBangka.ID - Bank Indonesia (BI) mencermati 5 hal yang menyebabkan gejolak ekonomi global di tahun ini hingga tahun depan.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengataka, perang Rusia dan Ukraina masih belum dapat diketahui kapan akan berakhir, perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok kian memanas, begitu pun dengan situasi geopolitik di Taiwan.

Terlebih pemerintah China akan memperpanjang kebijakan karantina (lockdown) hingga Semester I 2023. Kondisi global inilah yang akan berpengaruh pada perekonomian global dan Indonesia.

"Ada 5 hal yang mencirikan gejolak ekonomi di tahun ini maupun juga kemungkinan tahun depan di global," ujarnya saat rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, Senin (21/11/2022).

Dia pun merincikan 5 hal yang berpotensi menyebabkan gejolak ekonomi global hingga 2023, yaitu:

1. Perlambatan pertumbuhan ekonomi global

BI dalam proyeksi sekenario terburuk memperkirakan pertumbuhan ekonomi global di 2023 hanya sebesar 2 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Perry mengatakan, melambatnya pertumbuhan ekonomi global terutama akan terjadi di Amerika Serikat (AS) dan Eropa. Bahkan probabilitas terjadinya resesi di AS sudah mendekati 60 persen, demikian juga di Eropa.

"Secara keseluruhan pertumbuhan ekonomi dunia yang semula tahun ini 3 persen, kemungkinan akan turun menjadi 2,6 persen. Bahkan juga ada risiko-risiko turun lagi menjadi 2 persen terutama di Amerika dan di Eropa," ujarnya saat rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, Senin (21/11/2022).

Dia menjelaskan, skenario terburuk ini diperhitungkan BI lantaran kondisi global di tahun depan kemungkinan akan lebih buruk dari tahun ini. Padahal tahun ini sudah disebut-sebut sebagai kondisi musim dingin (winter).

Pasalnya, tahun 2023 diperkirakan kondisi ketegangan geopolitik seperti perang Rusia-Ukraina, perang dagang AS-Tiongkok, dan geopolitik di Taiwan masih akan terus bergejolak. Ditambah adanya perpanjangan lockdown di Tiongkok hingga Semester I 2023.

"Kondisi winter tahun ini belum yang terburuk, tahun depan yang terburuk karena memang ini berkaitan dengan kondisi geopolitik, fragmentasi politik, ekonomi, dan investasi adalah slowing growth atau pertumbuhan yang melambat," jelasnya.

2. Inflasi yang tinggi

Perry menjelaskan, tahun ini berbagai negara maju mengalami lonjakan inflasi, seperti AS yang mendekati 8,8 persen, Eropa 10 persen, dan Inggris mendekati 11 persen. Hal ini membuat tingkat inflasi global menjadi sebesar 9,2 persen di 2022.

Lonjakan inflasi global ini terjadi karena harga energi melambung tinggi akibat tidak adanya pasokan energi akibat perang Rusia dan Ukraina serta ketegangan geopolitik lainnya.

Kemudian, perang dan tensi geopolitik juga menyebabkan inflasi pangan karena rantai pasok menjadi terganggu. Bahkan di beberapa negara sampai terjadi krisis pangan.

3. Tren suku bunga tinggi untuk waktu yang lama

Lantaran terjadi inflasi yang tinggi tersebut, berbagai bank sentral berlomba menaikkan suku bunga acuan untuk meredam lonjakan inflasi. Hal inilah yang memicu tren suku bunga acuan tinggi dan diperkirakan akan berlangsung lama.

"Karena inflasinya dari sisi supply dari energi dan pangan, belum tentu inflasinya segera turun sehingga kenapa kejar-kejaran antara menaikkan suku bunga dan inflasi yang tinggi," jelas Perry.

Bank sentral AS (The Fed) menjadi salah satu bank sentral yang secara agresif menaikkan suku bunga acuan di 2022. Tercatat The Fed telah enam kali menaikkan suku bunga acuan dengan total kenaikan 375 basis poin (bps) menjadi di kisaran 3,75-4 persen.

BI memperkirakan di tahun depan The Fed masih akan menaikkan suku bunga acuan hingga tembus di level 5,25 persen. Diperkirakan puncak kenaikan di Kuartal I dan II 2023 dan kemungkinan tidak akan segera turun.

"Inilah high interest rate for longer, higher for longer. Di Eropa juga begitu ECB atau bank sentral Eropa juga akan terus menaikkan suku bunga dan juga di Inggris," ungkapnya.

4. Penguatan nilai tukar dollar AS

Sikap agresif The Fed dalam menaikkan suku bunga acuan kemudian berakibat pada penguatan nilai tukar dollar AS terhadap banyak mata uang dunia.

Penguatan ini terlihat pada indeks nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama (DXY) tercatat 106,28 pada 16 November 2022 atau mengalami penguatan sebesar 11,09 persen year todate (ytd) selama tahun 2022.

"Semua negara mengalami tekanan pelemahan karena strong dollar AS. Dollar AS yang menguat karena Fed Funds Rate yang naik, yield US treasury yang juga naik," ucapnya.

5. Cash is the king

Lantaran dollar AS menguat itu, investor global pun cenderung menarik dana dari negara berkembang dan menyimpan dananya di instrumen investasi yang likuid seperti cash dan near cash. Sikap investor ini disebut cash is the king.

"Cash is the king ini yang terjadi di hampir seluruh dunia termasuk emerging market termasuk Indonesia. Kenapa terjadi aliran modal keluar khususnya dari emerging kembali ke Eropa karena yieldnya tinggi dan dollarnya juga strong," pungkasnya.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Bos BI Sebut 5 Faktor Ini Berpotensi Sebabkan Gejolak Ekonomi Global", Klik untuk baca: https://money.kompas.com/read/2022/11/22/090200626/bos-bi-sebut-5-faktor-ini-berpotensi-sebabkan-gejolak-ekonomi-global?page=all#page2.

SumberKOMPAS.com
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
101.1 fm
103.5 fm
105.9 fm
94.4 fm